Headlines News :

.

.

Kota Bekasi

Kota Bekasi

SMK Liberty (Pemalang)

SMK Liberty (Pemalang)

Klik

Perumahan (Cileungsi) Bogor

Perumahan (Cileungsi) Bogor

Siswa SMPN 19 Kota Bekasi Siap Menjalani (UN)


Kepala Sekolah SMPN 19 KotaBekasi, Mawardi

KOTA BEKASI – 17/04/14, Ujian Nasional (UN) yang sudah terleksana ditingkat SMA Negeri dan Swasta Se-Kota Bekasi berjalan dengan lancar. Sekarang tinggal menunggu ujian nasional tingkat SMP Negeri dan Swasta Se-Kota Bekasi.

Setiap sekolah SMP masing-masing telah mempersiapkan pelajaran tambahan untuk pembekalan para siswa dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) yang sebentar lagi akan dilaksanakan.

Saat para siswa sedang mempersiapkannya, Kepala Sekolah SMP Negeri 19 Kota Bekasi mengatakan,” sejak awal tahun 2014, seluruh murid SMPN 19 ini sudah mempersiapkan pembekalan pelajaran untuk menghadapi Ujian Nasional nanti. Contoh dengan membedah pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya, dan dibantu juga oleh guru-guru pembimbing yang menemaninya sampai Ujian Nasional tiba.”Ungkapnya.

Mawardi menambahkan,” ia juga telah menganjurkan kepada seluruh siswa, sebelum memulai Ujian Nasional nanti seluruh siswa dan para guru melakukan Sholat dan Berdoa bersama terlebih dahulu agar para siswa bisa mendapatkan Nilai yang sempurna. (ADHI)  

WaliKota Bekasi Sidak (UN) Lewat CCTV SMAN 2 Kota Bekasi



WaliKota Bekasi Saat Memantau Ujian Lewat CCTV Diruangan Kepsek

BekasiSelatan – Sidak Ujian Nasional (UN) yang dilakukan oleh WaliKota Bekasi, Rahmat Effendi ke SMAN 2 Kota Bekasi berjalan dengan lancar. Dikarenakan SMAN 2 Kota Bekasi telah mengawas Ujian Nasional dengan langsung dan juga terpantau lewat Closed Circuit Television (CCTV) yang terpasang di 33 ruangan kelas, setiap ruangan terdapat 4 layar monitor. (14/04/14)

Pantauan Ujian Nasional (UN) kebeberapa sekolah seperti SMAN 1 dan SMAN 2 Kota Bekasi ini dihadiri oleh WaliKota Bekasi, Ketua Komisi D DPRD Kota Bekasi, Inspektur Kota Bekasi, dan Kabag Humas.

Peserta anak didik yang mengikuti Ujian Nasional (UN) diSMAN 2 Kota Bekasi ini sebanyak 626 Siswa. Dan diawasi sebanyak 66 pengawas dari beberapa sekolah seperti SMAN 9, SMAN 13,dan pengawas dari sekolah Swasta pun juga ikut serta mengawasi (UN) tersebut.

WaliKota Bekasi Rahmat Effendi beserta rombongan berkomentar,” bahwa pemasangan CCTV ini sangatlah membantu dalam  pengawasan Ujian Nasional dan mengantisipasi  terjadinya kejadian yang tidak diduga.

WaliKota Bekasi, Rahmat Effendi menambahkan,” ia tidak salah pilih dengan penempatan Kepala Sekolah SMAN 2 Kota Bekasi, Ekowati yang bisa menciptakan lingkungan sekolah yang maju yang juga tercantum di Visi Kota Bekasi.” Cetusnya. (ADHI)

SMAN 2 ADAKAN PEMBEKALAN PESERTA RAPAT SILANG PENGAWAS (UN)




BekasiSelatan – 10/04/14, SMAN 2 Kota Bekasi telah mengadakan pembekalan Peserta Rapat Silang Pengawas Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2013-2014. Pembekalan peserta rapat silang ini dipandu oleh Ekowati, Selaku Kepala Sekolah SMAN 2 Kota Bekasi.

Video Wawancara Kepala Sekolah SMAN 2 Kota Bekasi Selesai Rapat Silang Pengawas (UN) : 


 

MELURUSKAN SEJARAH HIDUP LETKOL. IMAM SYAFI'IE (Bang Pi'ie)


Ketika COBRA Ikut Mengamani IbuKota :


Letkol Imam Syafe'i


 JAKARTA - Mendekati akhir dari suatu rezim pimpinannya, maka Bung Karno (BK) pernah berupaya membentuk Kabinet yang terkenal dengan sebutan Kabinet 100 menteri (kalau 132 boleh dibulatkan jadi di 100) atau Kabinet Dwikora yang disempurnakan (79 Menteri). Maksudnya untuk mengakomodasi keinginan Mahasiswa, yang akhirnya usaha tersebut kandas.

Sejak semula Kabinet ini tidak disukai oleh mahasiswa pada waktu itu (termasuk Akbar Tanjung, Sofyan dan Yusuf Wanandi, Abdul Gafur dan beberapa nama lain yang kemudian menjadi menteri dan paling tidak jadi orang gedean juga).

Salah satu keberatan mahasiswa adalah diangkatnya Letkol “Senen” Imam Syafiie menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan. Beliau memang dikenal sebagai “palang dade” di kawasan Senen.
Mahasiswa lalu melakukan demo dan aksi corat-coret adalah “Preman Senen mengurus negara apa bukan asset bangsa akan digerogoti para Copet dan Koruptor.” – sekalipun dibelakang hari yang teriak-teriak tidak lebih dari mengurus negara seperti preman.
Ciri khas coretan mahasiswa di tembok-tembok toko atau pagar adalah kalau tulis hurup “a” yang kepala dan perutnya menghadap ke kiri (tradisional), selalu dibelokkan ke kanan. Pasalnya dulu itu segala sesuatu yang miring kekiri dianggap aliran komunis. Atau mungkin sekedar tampil beda.
Manai Sophian dalam memoirnya mempertanyakan mengapa Mahasiswa yang berjaket Kuning saat itu mampu memiliki jaket buatan Amerika, padahal situasi saat itu barang asal paman SAM dianggap lepra. Hanya kalangan tertentu yang bisa memilikinya.

Lalu siapakah palang dade (garda depan) dari pasar Senen yang dipercaya BK sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan ini?
Nama aselinya Syafi’ie seorang anak betawi kelahiran Pejaten, Pasar Minggu. Seperti layaknya jaman perang kemerdekaan,  Indonesia belum memiliki tentara reguler. Pemuda pemudi yang berani melawan Belanda kulit putih dan belanda kulit hitam, langsung membuat group dan berperang. Salah satu diantaranya adalah Safiie. Anak gelandangan pasar Senen.

Menurut penuturan Misbach Yusa Biran dalam memoir “Kenang-kenangan Anak Bandel” hal 64, ia masih ingat saat terjadi bentrokan antara pasukan Belanda dari Batalion X,  Misbach kecil malahan sibuk menjual majalah di Senen.  Nama Pa’i didengar sebagai ABG militan yang kalau sudah pegang pistol rampasan, berani menggempur pasukan Belanda bersenjata lengkap. Dan ia selalu nampak didepan.
Misbach sendiri mengaku baru bertemu dengan tokoh Kobra ini pada 1950 yang digambarkannya sosok bertubuh 1,55m, sintal, berpakaian necis dengan kumis tipis dibibirnya yang selalu tersenyum ramah. Ia lebih mirip seorang Habib.

Usai kemerdekaan ia direkrut menjadi tentara. Anggota TNI AD ini mulai moncer di kawasan Senen setelah ia menjadi Kapten sehingga nama Kapten Syafi’i sudah cukup menggetarkan jagat dunia hitam. Ia memang disegani kaum preman Jakarta. Ketika BK dan BH memproklamasikan kemerdekaan RI, pasukan Bang Piie ini banyak berperan dalam mengamankan Presiden dan wakilnya bahkan seringkali terjun dalam pertempuran langsung dengan NICA. Mereka membentuk pasukan yang disebut PI (Pasukan Istimewa). Dengan menyebut singkatan namanya maka pasukan PI mirip panggilan namanya PI’I
Banyak pihak percaya bahwa keamanan ibukota yang kondusip, aman terkendali saat itu berkat sepak terjang anggota Kobra pada periode 1950-1960-an. Bahkan Bung Karno sangat mempercayakan keselamatannya selain badan pengaman yang resmi yaitu CPM sebagai pengawal pribadinya. Semua gerakan yang mengancam pimpinan negara tidak pernah lolos dari pengamatan bang Pii dan anak buahnya.
Setelah pensiun dari ABRI ia sudah menjadi Letkol tetapi orang terlanjur memanggilnya Bang Kapten, atau bang Piie.

Menjadi pensiunan ABRI bukan alasan untuk cuma berdiam diri, ia berkiprah meneruskan organisasi keamanan partikulir yang dinamakan COBRA atau KOBRA. Anggotanya direkrut para pejuang yang tidak kebagian jatah posisi di Dinas Ketentaraan. Daripada frustrasi lantas bikin negara Betawi, mending bikin organisasi keamanan. Mobil ekspedisi dengan nama Cobra/KOBRA biasanya jaminan akan lancar tanpa gangguan para preman.

Alasan nama Kobra dipilih, pertama binatang ini tidak menyerang kecuali terpojokkan, kedua kalau menggigit korbannya tidak minta air sebab langsung ditutup buku amal baktinya didunia. Alasan lain ia amat tergila-gila dengan musik dangdut sampai membentuk grup musik Cobra.

Kelompok ini memegang aturan yang sangat tegas. Kalau kedapatan anggotanya berbuat jahat, bang Piie tak segan menghukum dengan cambukan buntut ikan Pari yang berduri tajam. Seperti diketahui pada September 2006, seorang pawang binatang kenamaan Steve Irwin saat berenang membuat filem mengenai kehidupan ikan Pari, tiba-tiba tarian pari yang indah itu mengandung maut ketika memecut dada Steve Irwin sampai menemui ajalnya di tempat. Akan tetapi menurut beberapa kalangan, dipecut buntuk ikan pari jauh lebih baik daripada jika dihantam dengan tangan kirinya. Tidak perduli sekuat apapun seseorang akan roboh bila menerima pukulan tapak kiri ala Brajamusti ini. Yang hebat, saat berkumpul antara ulama dan para jawara biasanya terjadi tukar menukar ilmu maen pukul dan ilmu batin.

Para pemilik toko biasanya menempelkan Foto Bang Pi’ie di tempat usahanya, agar terbebas dari gangguan para preman lainnya. Lulus SSKAD (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat) pada 1958 dengan pangkat Letkol, Syafie memiliki 16 anak. Ia pernah menikah dengan Ellya Rosa seorang bintang filem cantik 1950-an.

Pernah ditawari menjadi Komandan Cakrabirawa, tetapi ia menolaknya lantaran melihat bahwa Cakrabirawa sudah seperti Peci BK, alias kekiri-kirian.
Tragisnya ia justru dituduh kiri saat BK jatuh.

Pada 24 Februari 1966 ia diangkat sebagai Menteri Pertahanan Keamanan dalam Kabinet Dwikora yang disempurnakan. Namun usia Kabinet ini tidak lama, seperti diketahui, kabinet Dwikora dibubarkan oleh Pak Harto melalui SuperSemar 11 Maret 1966.

Ia lalu dikejar-kejar sebagai orang kiri, keluarganya diinterogasi lalu di tahan tanpa diadili, dan ketika dibebaskan dari rumah tahanan militer, ia sudah dalam keadaan sakit parah.
Pada 9 September 1982, seorang “preman” yang rajin ke majlis Taklim di Kwitang setiap ahad, yang sangat dekat hubungannya dengan para ulama Betawi, yang ikut andil dalam mengamanankan Ibukota akhirnya harus mengakui bahwa zamannya sudah lampau.

Ia meninggal dunia pada usia 59 tahun. Dan organisasi Kobra-pun sebagai pengaman ibukota tidak terdengar lagi kehebatannya. Lalu muncullah group satuan pengaman seperti Yapto, Herkules, Basri Sangaji. Riwayat hidupnya pernah diminta oleh Misbach Yusa Biran untuk dijadikan filem mengenai otobiografinya. Bang Pa’ii menolak mentah-mentah. Dia tidak mau dikatakan “ngibul” terhadap sejarah.  Anak buah Bang Pi’i pernah melihat kepala gengnya mengejar jip Belanda denganmenaiki kuda sambil mengelebatkan kelewang di jalan raya antara Senen dan Gang Tengah. Banyak yang melihat ia tidak tembus peluru saat ditembaki oleh Belanda.

Tapi, siapa  sekarang ini orang yang mau percaya. Dia bilang ane ngibul..” Dia tidak mau dikatakan pendusta. Di Stasiun Senin dia pernah dikepung Belanda, Pii molos saja melalui pagar kawat tanpa Belanda pernah melihatnya. Ketika menumpas pemberontakan Komunis Madiun pada 1948, kehebatannya terbukti sekali lagi. Sayang sejarah orang bawah yang bisa naik menjadi Kolonel lalu Menteri ini terkubur begitu saja.

 

Bazzar Perkantoran

Bazzar Perkantoran
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. zonapantau news - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger